Skip to main content

Istana Maimun Medan - Saksi Peradaban Islam dan Jejak Warisan Kebudayaan Melayu Deli yang Bercampur dengan Gaya Eropa



Hai, sobat nginap bareng~ kapan kita nginap bareng? :)

Kali ini saya ingin cerita bukan tentang tempat menginap, tapi perjalanan ke suatu tempat wisata.

Jika harus berpergian ke suatu tempat, ada kota yang ingin sekali saya kunjungi dan menjadi daftar destinasi wisata super prioritas versi saya yaitu Padang, Medan, Labuan Bajo, Papua, dan Aceh, dan mungkin kota kota lainnya! Tidak ada alasan spesifik, kota tersebut tiba-tiba saja terbersit dalam otak saya dan jadi ingin sekali ke sana.

Setelah kunjungan ke Makam Sunan Kalijaga di Demak dan Ziarah ke Makam Raden Fatah, Alhamdulillah, pertengahan tahun 2021 saya bisa menginjakkan kaki di Medan dan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Istana Maimun.

Perjalanan ini dipandu oleh Kak @bintangberpuisi -- seorang kawan blogger yang sudah saling kenal sejak 2013 melalui komunitas Warung Blogger, tapi kami baru bertemu di hari itu.

Istana Maimun adalah Istana peninggalan Kesultanan Deli yang didirikan atas gagasan Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah keturunan raja ke-9 pada Kesultanan Deli, dan mulai dibangun pada 26 Agustus 1888.

Berada di depan pintu yang katanya kamar utama Sultan.

Saya suka sekali nuansanya, seperti desain rumah alm. Kakek saya zaman dulu, yang di pintunya ada dua bilik dengan gorden sebagai lapisan depan.

Kak Dewi bilang, sudah sering ke sini tapi belum pernah foto di depan pintu ini, jadi mari kita jepret! hehe.

Secara historis, kemegahan Istana Maimoon (saya tidak tahu mana penulisan yang benar apakah Maimun atau Maimoon?) berbanding lurus dengan kemakmuran Kesultanan Deli pada masa Sultan Makmun ar-Rasyid Perkasa Alamsyah.

Membaca dari berbagai sumber, bangunan Istana Maimun terdiri atas dua lantai yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bangunan induk, sayap kanan, dan sayap kiri. Kemudian di bagian depan Istana terdapat 28 anak tangga berundak terbuat dari marmer mengkilat asal Italia. 

Dinding dan atapnya dihiasi ornamen perpaduan antara Melayu dan Timur Tengah. Tentara Hindia Belanda bernama Thedore Van Erp selaku arsitek berkebangsaan Belanda, merancang bentuk pintu dan jendela dengan lebar dan tinggi sesuai gaya arsitektur Belanda. Namun, terdapat pula beberapa pintu yang bergaya Spanyol.





Keseluruhan bangunan ditopang 82 tiang batu berbentuk segi delapan dan 43 tiang kayu. Di ruang induk (balairung) seluas 412 meter, terdapat singgasana berwarna kuning menyala yang berhiaskan kristal cantik dari Eropa. Semua ornamen kursi, lemari, lampu, meja hingga pintu dapat terlihat pengaruh Eropa dan saya suka sekali melihatnya!

Ruang induk merupakan tempat upacara penobatan raja dan upacara adat lainnya. Di tempat ini pula, sang Sultan menerima para pembesar kesultanan lain. Sementara itu, pada dinding ruangan ini terpajang foto sultan-sultan Deli dan permaisuri. Dan hanya sampai di sini saja area untuk berkeliling Istana. Ruangan lainnya, pada saat saya berkunjung tidak dibuka dengan alasan pandemi.





Menariknya, jika kita keluar dari area Istana, ada sebuah bangunan dengan atap ijuk yang berdiri kokoh di sebelah kanan Istana Maimun. Bangunan tersebut adalah tempat Meriam Puntung berada, atau lebih dikenal dengan sebutan meriam buntung.

Konon, meriam tersebut merupakan jelmaan dari seorang putri bernama Mambang Khayali, dari Kerajaan Deli Tua yang cantik jelita. Putri tersebut memancarkan warna hijau dari tubuhnya, sehingga dinamakan sebagai Putri Hijau.

Dikisahkan sukma Mambang Khayali meraga dalam sebuah meriam untuk bertahan dari Raja Aceh yang menyerbu istana karena pinangannya ditolak.


Pada saat itu terjadi perang dan untuk melindungi diri Meriam tersebut memuntahkan lahar api berkali-kali sampai akhirnya meriam pecah menjadi dua bagian karena terlalu panas terus menerus menembakan peluru.

Menurut cerita, belahannya sampai di Kampung Sukanalu, Barus Jahe, Tanah Karo. Sedangkan sebagian lagi tersimpan di bangunan samping Istana Maimun tersebut.

Di Istana Maimun juga katanya ada lubang penghakiman untuk memenjarakan orang bersalah, tapi lubang tersebut tidak bisa kita lihat lagi karena sudah ditutup.

Untuk masuk ke area Istana, ada area parkir motor dan biaya masuk ke dalam Istana sebesar Rp 10,000,- per kendaraan. Setelah itu jalan beberapa langkah dan masuk ke Istana bayar lagi sebesar Rp 10,000,- per kepala.

Di awal pintu masuk juga kami disambut dengan lagu lagu Melayu yang katanya mereka selalu bernyanyi setiap hari. Jika kamu datang ke sana, jangan lupa untuk disaksikan dan di apresiasi ya :)






Selain dapat menikmati keindahan ruang dalam dan luar istana, ada penyewaan baju tradisional kerjaan melayu Deli dengan membayar sejumlah nominal, tapi karena saat itu masih pandemi jadi saya takut untuk menggunakan barang yang dikonsumsi publik :))

Kunjungan ke Istana Maimun di Medan jadi pengalaman yang mengesankan bagi saya, karena bisa melihat unsur-unsur warisan kebudayaan dari Melayu Deli yang bercampur dengan gaya Eropa dan budaya peradaban Islam.

Apakah kamu pernah mengunjungi Istana Maimun? Dan apakah kamu ada rekomendasi tempat lain yang harus saya kunjungi?




Comments

Popular posts from this blog